Selalu Mengantuk dan Capek, Kenapa ya?

Beberapa waktu lalu saya mengalami masalah sejuta umat: selalu merasa mengantuk dan capek, terutama di penghujung hari. Seolah-olah simpanan energi di dalam tubuh saya minim sekali. Padahal rasa-rasanya dulu sebelum pandemi tidak begini.

Saya rasa ngga cuma saya yang merasakan hal tersebut. Sebelum pandemi, kita memiliki rutinitas yang sudah mendarah-daging. Kita sudah terbiasa mengatur semuanya seefisien mungkin menurut standar kita masing-masing.

Lalu tiba pandemi. Boom.

Rutinitas tersebut terganggu. Norma sederhana kita yang serba multiperan ini dulunya sudah terbiasa mengkotakkan eksekusi peran tersebut bedasarkan tempat: kerjaan kantor ya selesaikan di kantor, sampai rumah fokus jadi ibu dan istri yang baik.

Sometimes I wish my household can be this calm. Dua anak memang beda dari satu anak :”)

PSBB mengacaukan semuanya. Dua kotak tersebut dileburkan jadi satu, alias work from home – padahal kita tidak terbiasa menyatukan work dan home dalam suatu kalimat yang sama, kecuali ada negasi di antaranya.

Tapi, setelah saya fikir-fikir, I’ve been on this boat for quite some time now. Saya bukan orang baru dalam dunia work from home karena jauh sebelum pandemi – jauh sebelum saya menjadi ibu – ketika saya masih disibukkan dengan kuliah dan side hustle di US dulu, saya adalah seorang Independent Contractor untuk beberapa US companiesand I managed to juggle things my way – for years, even.

Baca Juga: Bekerja di Lead Genius.

What so different now? Kenapa saya mudah mengantuk dan capek?

“Ummi lagi apa?” suara Bella serta tangis adiknya, Marzia, di belakangnya menyadarkan saya bahwa ada beberapa variabel yang mempengaruhi keseluruhan rumus kehidupan saya.

Sekarang saya adalah seorang Ibu. Ada malaikat-malaikat kecil yang kebutuhannya lebih saya utamakan jauh dibandingkan kebutuhan saya sendiri. Buat saya, menjadi Ibu adalah sebuah amanah yang sifatnya very rewarding, hingga saya sering alpa untuk sekedar menekan tombol pause dan mengistirahatkan sejenak otot-otot di badan ini.

Padahal otot-otot ini, sendi-sendi di tubuh saya ini, punya hak yang harus saya penuhi.

Saya rasa Ibu-Ibu bisa relate dengan cerita saya, ya?

Tanpa saya sadari, I’ve been so abusive to my body. Bukan, bukan berarti saya melakukan kekerasan terhadap badan saya sendiri. Tetapi lebih kepada neglect. Saya mengabaikan tubuh saya. Saya mengabaikan saya.

Until it hit me.

Saya yang selalu menggantungkan kebutuhan energi saya pada kafein, atau lebih tepatnya pada kopi susu gula aren (karena menurut saya kopi adalah jalan pintas), yang selalu siap sedia dan senantiasa saya ramu sendiri di rumah, akhirnya sempat collapse juga beberapa waktu lalu.

Saya sampai di titik di mana saya mengonsumsi kopi hingga 5 – 6 gelas sehari, namun tetap tidak mampu untuk stay alert and awake, hingga merutuki kopi atas janji palsunya.

I thought you’re supposed to be a stimulant,” I said, as I gave a condescending look at the rest of the coffee I had at the bottom of my 5th cup that day.

I am not proud of this experience especially considering that I am a medical doctor. I should’ve known better and should’ve practiced my knowledge onto myself first.

Me shamelessly giving a great advice that I forgot to practice myself.

Tuhan sayang dengan saya karena kemudian saya disindir dengan lembut melalui beberapa hal, (1) pertanyaan di forum Ruang Mimpi Ibu/ RUMII bertajuk “Minum Kopi Kenapa Malah jadi Ngantuk ya?” yang bahkan saya ikut berkontribusi memberikan pendapat di dalamnya dan (2) me stumbling upon a very empowering, educating, and uplifting podcast di BossBabe “This One Thing is Stopping You From Working Out Consistently with Danette May”.

Ini podcast bagus banget. Coba didownload dan didengarkan di kala senggang.

So what happened, exactly?

Boleh saya bilang, beberapa waktu lalu, I kinda hit rock bottom – in terms of energy and well-beingwhich is kind of ironic because apart from being a medical doctor, I am running a business that focuses on healthy food catering. Again, I am not proud of that experience. Saya sharing my lesson learned with the hope that it can shed light and be beneficial to others.

Don’t be the past me, who were:

  1. Dehydrated. Mungkin memang terkadang tidak clinically profound hingga mengganggu my overall daily routine. Tapi, looking back, produktivitas saya kala itu memang in the verge of becoming a hot mess. Tanpa saya sadari, saya pernah minum kopi saja for three days straightwith no water whatsoever. Efeknya apa? I was neither alert nor anxious. Rather, I was sleepy as hell. Saya tersadar ketika salah satu sejawat saya berkomentar, “kopi lagi kopi lagi.” And I was like, kapan terakhir gue minum air putih? Kemarin? Lusa kemarin? Oops. So that happened.
  2. Very low on energy. Saya selalu capek. Waktu itu saya merutuki, tidak hanya Pak Menkes yang ngga solutif manajemen waktu saya yang acak adut, namun bahkan saya merutuki kondisi saya saat itu yang penuh dengan kesibukan ini itu. Kenapa satu hari rasanya ngga cukup buat saya? Capek fisik saya merembet ke psikis. Jatuhnya ternyata detrimental untuk kesehatan mental saya karena kemudian saya jadi ngga bersyukur dengan semua pencapaian saya – dengan semua anugrah yang Tuhan berikan untuk saya.
  3. Selalu mengantuk sampai nyaris masuk dalam kategori klinis narcolepsy. Jadi di satu waktu dalam sehari, pasti ada momen saya betul-betul tidak bisa mengontrol rasa kantuk dan lantas jatuh tertidur begitu saja di mana saja.
  4. Badan pegal-pegal. I had a very bad case of myofascial pain syndrome. No matter how much supplements – vitamins, minerals, fish oil, antioxidant, you name it – I took, badan saya, especially from shoulder up, selalu terasa nyeri yang saat itu saya rasa hanya dapat tertatasi dengan anti-nyeri. Again, don’t do this. Jangan gantungkan kesehatanmu dengan obat, dalam artian, jangan tunggu tumbang dulu sampai harus membutuhkan obat. Preventive measure is always better and more cost-effective.

Don’t be the past me.

Cara Ampuh dan Mudah Saya untuk Mengatasi Mengantuk dan Capek Dalam Jangka Panjang:

  1. Stay Hydrated. Minum terus. Maksud saya air putih, ya, bukan yang lain. Pun ketika ada keinginan untuk minum “minuman berwarna”, pastikan untuk lakukan penggantian cairan. Kebutuhan cairan setiap orang berbeda-beda, bergantung pada kondisi tubuh, aktivitas, dan daerah tempat tinggal. Rule of thumb yang paling mudah adalah 35 – 50 ml/ kgBB/ 24 jam air putih. Jadi, kalau berat badan saya 50 kg, kebutuhan minum air putih saya hari itu berkisar di 1750 – 2500 ml/ 24 jam. Jadi 1,75 liter itu minimal, ya, dalam sehari. Kalau ternyata dalam sehari itu, kita mengonsumsi minuman lain, ada patokan yang patut kita ikuti: untuk setiap gelas minuman bersoda yang kita konsumsi, harus tergantikan dengan 32 gelas air putih, dan untuk setiap 2 gelas kopi atau teh yang kita konsumsi, harus tergantikan dengan 2 gelas air putih. And yes, there is a science behind all of these rules, just hit me up down on the comment section and I’ll be very happy to explain.
  2. Your food is your medicine,” was the best advice anyone can give, really. Ngga main-main, nasihat itu bahkan datang dari Bapak Hippocrates himself, the Ancient Father of Medicine. Dan memang, di praktek saya sehari-hari, saya banyak menemukan bahwa permasalahan kesehatan pasien saya memang ternyata datang dari diet (catatan: arti kata diet adalah “makan”) yang salah – entah makanannya kotor, salah komposisi makronutrisi, kurang asupan mikronutrisi, dsb. Saran saya, be purposeful with what you eat. Jangan mager belajar, cari tahu kandungan dari tiap-tiap makanan. Jadi kita tahu kenapa kita makan makanan tersebut. Makan bukan karena craving, tapi karena kita tahu badan kita butuh itu. Sesekali craving itu ngga apa-apa banget, tapi ngga setiap waktu. Makan wide range of food selections – sayur dan lauknya ganti-ganti untuk memastikan nutrisi tubuh kita terpenuhi. Jadi memang makan itu tidak hanya tentang menghitung kalori, but more to getting to know your food and what you ingested inside your body.
  3. Live an Active Lifestyle. Terdapat 3 kategori gaya hidup berdasarkan aktifitas kita sehari-hari: (1) sedentary (termasuk ke dalam kategori ini adalah jenis gaya hidup mandiri/ independent living/ beraktivitas tanpa dibantu orang lain – minim aktivitas dan cenderung banyak duduk), (2) moderately active (independent living dengan kebiasaan berjalan kaki 2.5 – 5 km per hari dengan kecepatan 5 – 6.5 km/ jam), dan (3) active (independent living dengan kebiasaan berjalan kaki > 5 km per hari dengan kecepatan 5 – 6.5 km/ jam). Kebanyakan kita pekerja kantoran, apalagi yang sedang WFH, masuk dalam kategori sedentary jika tidak membiasakan olahraga minimal 3 kali per minggu di mana per sesinya berdurasi minimal 30 menit (belum termasuk pemanasan dan pendinginan). Akhir-akhir ini saya kembali membuka buku pelajaran – because doctor is, in fact, should be a life long learner – dan kembali diingatkan bagaimana nutrisi digunakan sebagai bahan bakar energi di dalam tubuh. Jadi, di mana sempat, sejauh ini saya selalu berusaha membakar makan besar saya sebisa saya, dengan cara melakukan workout ringan in between meals jika saya merasa aktivitas saya tidak terlalu banyak di hari tersebut. Setidaknya, stretching is a must untuk saya demi memastikan setiap ruas tubuh mendapatkan haknya untuk bergerak. And true enough, saya merasa sangat segar dan lebih fleksibel. Otot dan sendi saya ngga sakit-sakit dan pencernaan saya lebih lancar. Otak saya terasa lebih clear dan overall saya merasa lebih mudah mendapatkan ide, inspirasi, dan lebih produktif. The wonder of workout and I am not even making this up. Boleh dicoba, ibu-ibu. Workout does change your life.
  4. Be conscious to what your mind and body need. You come first because you are needed and loved – because you are important, to you and to everyone else around you. Cintai diri sendiri. Betul, anak-anak penting. Betul, suami penting. Betul orang tua atau sanak saudara penting dan kerjaan memang ga bisa ditinggal. Tapi, saya berusaha untuk terus mengingatkan bahwa in order to be present and helpful for my loved ones, I need to make sure I am healthy and fit to give my best for them. Penting sekali untuk ngerem di saat semuanya terasa mulai berserakan. Again, preventive measure is key. Sebelum betul-betul ambruk dan berantakan, we need to know when to stop and give ourselves some space before launching even higher.

Saya baru semingguan ini menjalani semua yang saya sebutkan di atas and I can already cut down my caffeine intake to one glass of black coffee (with no white sugar – which I replaced with either coconut sugar or stevia) tanpa merasa mengantuk sama sekali dan bahkan merasa more energized, feel more conscious, more alert, and more inspired than ever before.

Jalan pintas itu mudah didapatkan. Ibu boleh memilih kopi, nootropics, or whatnot. Tapi, pilihan-pilihan itu tidak sustainable. Kita mau alert, sehat, dan bahagia dalam jangka panjang, bukan?

If so, mari menata hidup dan sisipkan rutinitas sehat setiap hari.

Stay safe and healthy semua karena #sehatitulezat!

Cheers!

21 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *