Dexamethasone: Jangan Panic Buying!

Hasil pencarian keyword “dexamethasone” tanggal 19 Juni 2020.

Gambar di atas adalah hasil pencarian keyword “dexamethasone” di Google per tanggal 19 Juni 2020. Udah mulai populer aja ini obat. Saya mengangkat keyword ini dalam tulisan saya kali ini dengan harapan bisa menjadi media edukasi buat temen-temen agar tidak mengulang cerita Chloroquine yang lalu. Panic buying Chloroquine di pandemi COVID-19 menyebabkan harga pasarannya naik, sehingga institusi kesehatan sulit mendapatkan obat tersebut. Dampak akhirnya, you know it, berkontribusi terhadap meningkatnya angka kematian karena COVID-19 di Indonesia. Soalnya yang membutuhkan (which is ya mereka-mereka yang sudah terdiagnosis COVID-19 di rumah sakit dengan kondisi klinis tertentu) tidak dapat, malah mereka yang sehat-sehat dan mau “mencegah” agar terhindar dari COVID-19 yang menimbun. Nope, Chloroquine doesn’t protect you against COVID-19 and neither does Dexamethasone.

Apa itu Dexamethasone?

Jawaban pertanyaan ini bisa banget temen-temen dapatkan dengan mudahnya di Google. Ini ya saya beri tautan yang memudahkan temen-temen mengerti tentang obat ini secara medis. Singkatnya, obat anti-inflamasi.

Inflamasi itu nama bekennya peradangan. Kalau denger kata peradangan mungkin erat di telinga temen-temen non-medis istilah radang tenggorokan, yes? Atau bahkan beberapa temen-temen sudah mengenal obat ini karena pernah diberi tahu bisa menyembuhkan radang tenggorokan.

Gimana sih rasanya radang tenggorokan? Nyeri! Ngga bisa nelen. Minum air putih aja sakit. Sangat amat tidak nyaman! Menyiksa sekali! Yah, begitulah rasa radang secara umumnya. Mau lokasinya di tenggorokan, kek, di sendi lutut kek, di gusi kek.. Intinya, kesan penderita radang semua pasti serempak: radang itu ga enak!

The thing is, my friend, sometimes tubuh kita butuh proses peradangan. Saya bold dan garis bawahi sekalian biar meresap di pemahaman teman-teman sekalian.

Baca sekalian: Harus gimana kalau anak sakit saat pandemi COVID-19? Mau ke rumah sakit takut nih.

Kenapa proses peradangan itu dibutuhkan?

Oke, agar lebih memudahkan, kenalan dulu dengan istilah patogen. Patogen itu sebutan untuk kuman. Tau kuman, kan? Kuman adalah makhluk Tuhan paling seksi yang kalau masuk ke tubuh kita bisa menyebabkan kita sakit. Bakteri, virus, cacing, jamur, dan protozoa adalah contoh dari macam-macam kuman atau patogen.

Banyak ya jenis patogen. Ngeri bray. Tanpa kita sadari kita hidup dengan berbagai jenis patogen. Syukur Alhamdulillah Allah melengkapi tubuh kita dengan perlindungan. Salah satunya, itu loh, yang biasa kita sebut sistem imun.

Ini dari theAwkwardYeti.com. Lebih kurang beginilah ilustrasinya ya. Sel imun adalah tentara yang menjaga tubuh kita.

Jadi boleh saya analogikan proses sakit itu seperti perang. Negara adalah tubuh kita. Patogen adalah penjajah. Sistem imun adalah tentara kita. Jadi sistem imun berperan sangat penting untuk memastikan tubuh kita tidak terjajah oleh patogen. Perang itu proses sakit. Perang itu peradangan.

Apapun itu outcome perang, mau negara yang menang atau penjajah yang menang, yang jelas satu hal yang pasti: negara hancur.

Hancur? Loh iya dong. Kan ada tank, ada tembakan, ada bom, penjarahan dsb. Hancur infrastruktur. Hancur negara.

Begitu pula yang terjadi dengan peradangan. Peradangan perlu untuk membunuh kuman. Tapi efeknya ke tubuh ga nyaman memang. However uncomfortable, inflammation is much needed still.

Nah sekarang, bayangkan.

Ada patogen super. Penjajah dengan teknologi baru. COVID-19 namanya. Masuk ke dalam tubuh kita. Terjadilah perang. Karena kebetulan penjajah ini penjajah baru, kita nggak begitu tahu tentang sifatnya, juga kelemahannya. Makanya kita masih meraba-raba – berusaha mengenal sedikit demi sedikit penjajah ini.

Baca juga: Tulisan temenku, Mba Steffi, tentang PCR Test di Jakarta. Hanya dari pemeriksaan ini si patogen bisa terlihat. Perbedaannya dengan Rapid Test adalah kalau Rapid Test, yang dilihat hanya “jejak” patogen tersebut.

Sembari mengenal, pertahanan kita bisa oleng. Apalagi penjajahnya bawa teknologi baru yang canggih. Gimana kita nggak keok.

Makanya kalau temen-temen denger berita.. Atau denger temen-temen nakes berkoar-koar. “Stay at home!” Itu kenapa?

  1. Kita masih buta tentang penyakit ini. Seluruh dunia tengah belajar bersama-sama tentang penjajah satu ini, namely COVID-19. Ngeri ngga? Mending stay at home, kan? Daripada pasang badan untuk menghadapi sesuatu yang ngga kita ketahui.
  2. Penjajah ini penjajah super. Teknologinya canggih, nggak seperti penjajah kebanyakan. COVID-19 is capable of inducing a cytokine storm. Now, what the hell is a cytokine storm? Sitokin adalah sistem imun kita. COVID-19 bisa menciptakan badai bagi para sistem imun kita. Ngga banyak patogen yang bisa buat begini. Udah ngeri belum?

Sering juga kan denger kalau lansia dan mereka yang sudah memiliki penyakit kronis sangat berisiko tertular dibandingkan mereka yang masih muda dan bugar? Why is that?

Karena lansia sistem imunnya udah tua! Udah renta. Buat menjaga dari patogen ecek-ecek aja susah (makanya lansia gampang sakit). Nah apalagi disuruh lawan COVID-19.

Kalau yang punya penyakit kronis? Sistem imunnya udah terlalu sibuk jaga tubuh dia dari penyakit yang sudah dia idap sejak lama. Mau disuruh lagi lawan COVID-19. Ga mampu bok!

Tunggu.. Ini apa sih hubungan peradangan pada COVID-19 dengan Dexamethasone? Masih ngga nangkep akutuh.

Inget ngga kalau tadi saya bilang peradangan is much needed untuk mengusir penjajah? Sementara dexamethasone itu anti-radang. Yes, jadi dia kontra-produktif dengan kinerja tentara kita. Dengan adanya dexamethasone, peradangan atau peperangan terhadap patogen di tone down. Jadi yang normalnya tentara keluar 100, dengan adanya dexamethasone tentara yang keluar cuma 50.

Loh, tapi kadang saya sakit radang tenggorokan dikasi dexamethasone dok sama dokternya? Itu berarti dokternya merasa infrastruktur negara sudah rusak terlalu banyak, sementara dokternya percaya bahwa untuk melawan radang tenggorokan ecek-ecek yang biasanya tentara 50 biji mampu melawan. Ngga perlu 100 amat. Soalnya makin banyak yang keluar, makin banyak damage, kan.

Masalahnya, COVID-19 ini bukan kuman ecek-ecek. Tanpa di tone down aja badan kita sulit ngadepinnya, apalagi kalau masuk dexamethasone. Kondisi tubuh tuh udah critical banget. Ibarat kayak pas film the Avengers: End Game, pas scene terakhir.

Begini nih lebih kurang situesyen tubuh pasien kritis yang sedang memerangi COVID-19. Sistem imunnya bak para avengers. Pasukan COVID-19 itu si Thanos dan minionsnya.

Nah, lagi kondisi critical gini, di mana kita butuh avengers full hadir semua, tapi malah kita tarik sebagian avengersnya dengan dexamethasone. Piye?

Tapi buktinya dexamethasone bener bisa bikin pasien COVID-19 sembuh kok kata WHO.

Pasien COVID-19 yang mana dulu? Temen-temen sudah tahu kan kalau COVID-19 ini klinisnya beragam banget? Pasien positif COVID-19 itu ada yang b aja – meaning mereka heran gitu, dibilang COVID-19 tapi gaada gejala apa-apa. Tapi ada juga pasien COVID-19 yang sesek nafas banget karena ada sekret/ lendir sekental lem aibon di saluran nafasnya yang disedot ga lepas-lepas.

Ini loh gambar bronkoskopi (pemeriksaan dengan memasukkan kamera ke saluran nafas bagian bawah) pasien dengan COVID-19 yang mengalami pneumonia/ infeksi paru. Lihat kan itu ada lendir yang kayak bola-bola busa? Itu lengket banget cyinn bukan kayak ingus biasa. Udah kayak lem aibon!

Pasien COVID-19 dengan manifestasi hingga pneumonia (infeksi paru) itu ternyata diketahui sedang mengalami yang saya sebut tadi cytokine storm (beberapa yak, ga semuanya). Jadi badai sitokin ini mungkin gambaran awamnya ibarat si tentara kita sedang panik karena nyaris kalah, jadi membabi buta mengebom ke arah musuh. Sayangnya musuh berdiri di area negara. Jadi negara makin hancur dengan adanya bom bertubi-tubi dari tentara kita.

Bom bertubi-tubi, maksudnya buat bunuh COVID-19 sih. Tapi yang hancur negara. Musuhnya hancur? In this case, nggak! Why? Wong COVID-19 punya teknologi canggih.

Jadilah oleh beberapa nakes di negara lain dicobakan untuk men-tone down perilaku tentara yang sedang bertubi-tubi mengebom musuh. Soalnya damage ke negara lebih besar dibandingkan ke musuh. Inilah yang dikerjakan salah satunya oleh RECOVERY Trial by Oxford University.

Yak. Silahkan dibaca yang sudah saya highlight. Silahkan baca lebih lengkap dengan mengklik foto di atas.

Dexamethasone mengurangi kematian pada 1/3 pasien yang terpasang ventilator (alat bantu nafas – boleh dibilang ini alat bantu nafas buat yang nafasnya udah parah banget – soalnya alat bantu nafas kan ada banyak banget tergangung derajat keparahan sesaknya) dan pada 1/5 pasien yang mendapatkan terapi oksigen (nah kalau yang ini termasuk pasien-pasien yang pake selang oksigen kayak di sinetron-sinetron Indosiar itu).

Dari hasil RECOVERY trial ini, 1 dari 8 kematian pasien yang terpasang ventilator dapat dicegah atau 1 dari 25 kematian pasien yang butuh terapi oksigen dapat dicegah.

Angkanya kecil, yes? Udah gitu, terbatas untuk golongan pasien tertentu, yes?

Nah, Bapak-Ibu sekalian. Sebelum panic buying dexamethasone untuk mencegah terjangkit COVID-19, tolong ditanya ke diri sendiri, saya butuh dexamethasone ngga sebenernya? Kalau saya, yang tidak terjangkit COVID-19 atau bahkan sudah terjangkit COVID-19 tapi ringan, minum dexamethasone yang justru malah men-tone down kinerja sistem imun saya yang sedang optimal-optimalnya bekerja, malah bakal selamat atau keok kalau minum dexamethasone?

Saya harap Bapak-Ibu sudah bisa menjawab ya dari paparan saya di atas 🙂

Salam sehat!

PS. Kalo belum, seriusan boleh nanya di kolom komentar. Nanti saya jelasin lebih lanjut in sha Allah.

Disclaimer: Statusnya seluruh dunia sekarang sedang belajar bersama tentang COVID-19. Jadi bukannya ngga mungkin ilmu yang kita yakini hari ini bisa berbeda dengan yang kita discover melalui riset seminggu, sebulan, atau bahkan setahun ke depan. So keep yourself updated ya tentang penyakit ini.

Baca sekalian: Tulisan teman virtualku, Mommy Acha, tentang Hati-hati Resistensi Antibiotik.

38 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *