Pupuk Organik Cair (Edisi Menanam Sayur di Rumah)

“Sayang, aku buat POC dulu ya,” adalah salah satu kalimat favorit Abu Bella-Marzia, suamiku, akhir-akhir ini. POC yang dimaksud adalah Pupuk Organik Cair. Selama di rumah aja di masa pandemi ini, we actually picked up few new hobbies of our own. Aku dengan menulisku. Abu Bella-Marzia dengan menanam sayur di rumah versi-nya. There are actually quite few other things that we picked up during this whole WFH period, in sha Allah nanti kita share di postingan-postingan berikutnya.

Hobi membaca? Mari mampir to read and show some support to my novel Inbetween: Me (A)nika di platform Kwikku.

Jadi akhir-akhir ini Abu Bella-Marzia memang punya kesibukan baru di sepetak kebun di halaman depan rumah kami. Selain budikdamber (budidaya ikan dalam ember), Abu Bella-Marzia jadi senang menanam sayur di rumah! Di kebun kami sudah ada bawang merah, bawang putih, daun bawang, cabai, tauge, sayur kangkung, rosella, kunyit, kencur, bayam, dan azolla. One of these days I’m definitely going to share how we start our petite gardening and budikdamber at home.

Kebun sepetak di rumah. Ini update setelah 2 bulan PSBB. Itu ada Bella lagi main di halaman, jadi kami tutup stiker hehe.

Baca juga pengalaman temenku, Ibu Kaffa, memulai perjalanan gardening-nya dengan menanam cabai.

Jadi, sepemahaman kami yang masih pemula ini, konsep dasarnya adalah tumbuhan membutuhkan tiga hal untuk bisa hidup: cahaya, air, dan nutrisi. Cahaya dari matahari, air dari hujan atau kita siramin, dan nutrisi dari pupuk.

Kalau kemudian dia tidak tumbuh dengan baik, maka kita harus cari akar masalahnya. Pupuk akan memperbaiki masalah jika tidak tumbuhnya disebabkan oleh kurangnya nutrisi. Tapi, jika masalahnya ternyata juga mencakup kurangnya pengairan dan terlalu tertutup sinar matahari, pemberian pupuk saja nggak cukup.

Oke, sudah kena sinar matahari, nih. Sudah rajin disiram juga. Pupuk juga sudah dikasih. Kok masih nggak tumbuh? Coba kita cek, jangan-jangan tumbuhannya berkompetisi dengan akar-akar tumbuhan lain untuk mendapatkan nutrisi. Jadi, pupuk isn’t always the only solution to your gardening problems.

Also take note, kelebihan cahaya matahari bisa jadi nggak bagus juga. Selain itu, untuk beberapa tanaman juga ngga bisa terlalu banyak air. So, moderation is key and research is gold (ya, sebelum nanem baca-baca dulu lah kebutuhan tumbuhan yang mau ditanam itu apa, biar ngga salah hehe).

Mengapa Pupuk Organik?

Pupuk sendiri ada yang jenisnya anorganik dan organik. Pupuk anorganik itu pupuk hasil sintesis. Kalau pupuk organik adalah pupuk alami. Contohnya, adalah kotoran hewan, tulang belulang yang dihancurkan, biji kapas, cangkang telur, sisa – sisa sampah makanan rumah tangga, buah yang sudah busuk atau kulit buah sisa konsumsi, dan bahan-bahan alami lainnya.

Jadi istilah organik di sini menunjukkan bahwa bahan yang kita gunakan sebagai pupuk itu hanya melalui proses minimal untuk dijadikan pupuk. Ketika kemudian kita beri ke tanah, maka pupuk organik ini akan diproses lebih lanjut oleh mikroba untuk menghasilkan nutrisi yang siap di”makan” oleh tanaman.

Biasanya kita tergoda dengan pupuk anorganik karena jatohnya dia lebih praktis ya, selain juga lebih tinggi nutrisi, soalnya sudah lebih dulu diproses kan. Jadi ibaratnya si tumbuhan tinggal mamam aja tuh. Kalau pupuk organik, sifatnya slow-acting, jadi nutrisinya dikit-dikit dikeluarin (karena processing oleh mikrobanya kan ngga langsung semua blek blekan) – dan bagusnya jadi nggak overdosis.

Bentukan pupuk juga bermacam-macam, bisa kompos, cair, dan granular.

Dari komposisi bagaimana? Ya, sebetulnya tiga nutrisi penting untuk tumbuhan adalah nitrogen (N), phosphat (P), dan kalium (K). Baik pupuk organik maupun anorganik memiliki ketiga unsur ini, selain juga unsur-unsur lain yang bervariasi tergantung bahan dasar pupuknya.

Yang anorganik biasanya sumbernya dari petroleum/ minyak bumi. Proses pembuatannya menciptakan efek samping buat alam. Selain itu juga, aplikasinya memiliki efek samping pada tanah.

Abu Bella-Marzia nyoba buat pupuk organik karena ya.. Tujuan berkebun untuk back to nature. We’re not rushing things. Nggak buat jualan, juga. Abu Bella-Marzia menikmati prosesnya. Alhamdulillah, kangkung udah sekali panen. Daun bawang udah nggak beli lagi hehe. Yang lain masih on process. Ya, kita nikmatin aja.

Lagian, kita menumbuhkan sesuatu yang alami, pake sesuatu yang alami juga, gitu. Kalau maunya instan, efeknya ke alam juga ada, kan. Jadi kayak, ngapain gitu? It cancels out tujuan awal berkebun hehe.

Lagian kita punya banyak kitchen waste, yang daripada nambah timbunan sampah, mending kita pake buat menanam sayur di kebun sepetak rumah.

Pupuk Organik Cair

Jajaran pupuk organik cair yang sudah dibuat Abu Bella-Marzia.

Pupuk organik cair (POC) ini didapatkan dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia. Jenis sampah organik yang bisa diolah menjadi pupuk organik cair di antaranya adalah sayuran (sayuran basi juga bisa), sisa nasi, sisa lauk (ikan, ayam, kulit telur), dan sampah buah (udah disebutin sih di paragraf atas hehe). Proses pembuatannya biasanya lama, namun bisa dipercepat dengan produk bioaktivator. Yang Abu Bella-Marzia gunakan namanya EM-4 (Effective Microorganism-4).

Dari namanya udah ketahuan, ya, isinya mikroorganisme (kuman) yang berperan dalam fermentasi untuk pembuatan pupuk organik cairnya.

Abu Bella-Marzia memilih mencoba membuat pupuk organik yang jenisnya cair selain karena jenis ini mudah diserap oleh tanaman, selain juga karena pupuk organik cair ini mudah sekali dibuat dan disimpan.

Nah, jadi tahapannya adalah Abu Bella-Marzia buat dulu yang namanya MOL (mikroorganisme lokal). Larutan MOL kemudian melalui proses fermentasi yang hasil akhirnya adalah pupuk organik cair.

Berikut kami share video bagaimana Abu Bella-Marzia membuat larutan MOL untuk pupuk organik cair sehari-hari:

Jadi 3 komponen utama pembuatan MOL adalah:

  1. Karbohidrat. Kalau Abu Bella-Marzia dapetin karbohidrat dari air cucian beras/ air tajin. Pernah juga nyobain dari nasi yang sudah basi.
  2. Sumber mikroorganisme. Kalau Abu Bella-Marzia nggak mau ribet, jadi pake EM-4 tadi. Tapi bisa banget didapat dari sisa buah busuk, sisa ikan, terasi, rebung, dan bonggol pisang.
  3. Glukosa. Kalau Abu Bella-Marzia makenya molase (ampas tebu). Tapi bisa juga pakai gula pasir putih atau gula aren (jangan lupa dicairkan dulu).

Kemudian, larutan MOL tadi dibiarkan 7 hari agar terjadi fermentasi. Caranya mudah, cukup simpan dalam wadah tertutup rapat. Pastikan bahwa wadahnya adalah wadah yang mudah dibuka tutup. Selain itu, hendaknya tidak mengisi larutan MOL hingga betul-betul memenuhi wadah. Sisakan space untuk burping (proses pengeluaran gas dari wadah dengan cara dibuka tutupnya).

Yak, betul. Proses fermentasi ini nantinya akan menciptakan gas CO2. Kalau build up gas di dalam botol terlalu banyak, mungkin saja menekan tutupnya. Atau bahkan, jika wadah yang digunakan tidak kuat (kaca tipis misalnya), bisa saja pecah. Jadi jangan lupa diburping setiap hari ya!

Biar nggak lupa, wadahnya dilabeli waktu pembuatan dan waktu pupuk organik cair siap digunakan.

Fermentasi bisa dilakukan hingga 2 minggu. Tapi, jika fermentasi dibiarkan memasuki minggu ke-3, kualitas pupuknya akan berkurang karena CO2 yang sudah terbentuk mengurangi kinerja mikroorganisme di dalam pupuk organik cair tersebut. Selain itu, sumber energi buat si mikroorganismenya juga sudah mulai menipis kan. Intinya mikroorganismenya sudah lelah. Jadi, sebaiknya digunakan di antara 1- 2 minggu pasca-fermentasi.

Silahkan dicoba ya. Lalu share hasilnya bagaimana. Mungkin temen-temen mau coba pakai buah-buahan tertentu untuk pembuatan larutan MOL-nya? Monggo. Kita bereksperimen yah 🙂

Atau bisa sharing juga, selama masa PSBB mungkin tidak bercocok tanam, tapi ada hobi lain yang dilakukan? Share di komen yah!

30 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *