Anak Batuk Pilek: COVID-19 atau Seasonal Flu?

Dalam Pandemi COVID-19 ini sebetulnya yang paling menyeramkan adalah pergi ke rumah sakit. Kenapa? Karena tingginya chance point of contact kita dengan orang yang probably atau bahkan positif Corona. Jadi sebetulnya agak was was mau memeriksakan keluhan, padahal cuaca sedang tidak mendukung. Kadang panas banget, terus tiba-tiba hujan.. Udara lembab terus, tiba-tiba kering.. Kalau kemudian ditunjang dengan kondisi tubuh yang nggak fit, jadi deh: batuk pilek alias batpil!

Kalau batuk pileknya dialami Mommies and Daddies mungkin nggak terlalu mengkhawatirkan ya, walau agak-agak parnoan pasti.. Corona bukan nih? Yes maybe Coronavirus, tapi bukan strain yang menyebabkan COVID-19 😀

Nahloh.. Bedanya apa nih? Nanti lebih lanjut dibahas di bawah ya Mommies ♡

Nah kalau yang batpil anak.. Apalagi bayik atau toddler.. Mulai pusing tujuh keliling deh tuh. The question being, ke dokter ga nih?

Kalau sudah seperti ini sebetulnya paling tepat adalah menggunakan aplikasi telemedicine yang sekarang banyak tersedia, di mana kita bisa langsung chit chat konsul dengan dokter online, bisa DU (dokter umum) atau DSA (dokter spesialis anak) sekalian untuk mengkonfirmasi dan mendapatkan saran tata laksana paling tepat buat Dedek.

Tapi sebelum huru hara dan panik sendiri, mungkin ada baiknya Mommies tau beberapa hacks untuk membedakan antara gejala COVID-19 dan seasonal flu DAN tips and tricks apa saja yang bisa Mommies lakukan di rumah untuk mengatasi seasonal flu.

Di post sebelumnya tentang Bekerja di Lead Genius, Ummi sempat mention bahwa selain bekerja secara online, Ummi juga punya kerjaan di dunia nyata. From one busy Momma to another, mari kenalan lebih jauh sebentar yuk.

Ummi Bella-Marzia (yes, I recently gave birth to another angel, Alhamdulillah) kebetulan punya gelar MD di belakangnya, alias Medical Doctor, alias GP/ General Practitioner – alias bahasa sederhananya dokter umum (´∀`)♡ Sehari-hari biasanya nanganin Bapak Ibu yang bekerja sebagai pejabat DKI Jakarta. Jarang ketemu pasien anak di praktek yang sekarang, tapi sebelumnya sempat kerja di RSIA ❣

Enough intro. Terpaksa harus kenalan sedikit lebih jauh supaya Mommies dapat info tentang kredibilitas penulis karena nggak semua yang Mommies baca online atau yang di-share di WA bisa Mommies percaya (Ummi especially sebut WA karena dari sinilah banyak lahirnya sumber ke-hoax-an di Indonesia Raya ini, terutama terkait hal-hal berbau medis) (●´□`)♡

COVID-19: Lebih dari sekedar flu.

Kenapa Ummi sebut lebih dari sekedar flu? Karena dari origin-nya dulu di Wuhan, sebetulnya kasus-kasus awalnya adalah infeksi paru, bukan flu.

Coronavirus sebetulnya adalah nama dari keluarga virus penyebab flu. Tapi dia banyak jenisnya – dalam bahasa kedokteran kami menyebutnya strain. Jadi dia ini banyak strain-nya, Mom. Beda strain, maka penyakit yang ditimbulkanpun berbeda. Coronavirus ini pinter, Mommies. Dia bisa bermutasi, sehingga sekarang Coronavirus penyebab COVID-19 ini sebetulnya strain-nya banyak. Yang nyebabin penyakit di Wuhan beda jenis dengan yang di KorSel, beda pula dengan yang di Indo. COVID-19 ini sebetulnya tingkat keparahannya pada pasien terutama ditentukan dari kondisi pasien itu sendiri (semakin banyak penyakit pada tubuh pasien itu – semisal dia punya Diabetes, Asthma, dsb – maka semakin berat gejala COVID-19 yang dia alami).

Note: I don’t talk about the general knowledge on COVID-19 karena info ini accessible banyak di dunia maya dan silahkan ketik COVID-19 di Google, langsung keluar banyak info yang patut diketahui tentang penyakit ini.
WA WHO CORONA
Dengan mengklik ini, akan muncul pop up chat Whatsapp dengan WHO bot.

Maka dari itu, manifestasi klinis atau gejala tiap-tiap pasien berbeda. Ada yang tidak bergejala, ada yang flu biasa, ada yang paru-parunya terinfeksi, atau sampai gagal nafas dan bahkan meninggal.

Nah karena strain Coronavirus penyebab COVID-19 ini notabene baru dibandingkan strain pendahulunya (strain terdahulu beberapa di antaranya penyebab MERS dan SARS), maka Coronavirus penyebab COVID-19 ini disebut juga dengan sebutan Novel Coronavirus (arti novel di sini ‘baru’ sebagai penanda bahwa Coronavirus ini nih baru jenisnya).

Mengingat virus ini adalah strain virus baru dari keluarga Coronavirus, jadi seluruh dunia saat ini sedang bersama-sama belajar mengenai penyakit ini. Research-nya ongoing dan selalu ter-update setiap hari. Pasti Mommies ingat kesimpangsiuran berita mengenai COVID-19, terutama di awal-awal pandemi ini merebak? Contoh gampangnya, jangan pake masker kain, ga guna. Jadilah orang berbondong-bondong membeli surgical mask sampe habis itu, sampai sejawat-sejawat Ummi banyak yang ga kebagian (◕︿◕✿) Lalu berlanjut ke rumor bahwa masker N95 (salah satu jenis masker medis) gabisa tuh dipake buat menghambat Coronavirus. Dan lalu.. Eng ing eng.. Ternyata pada akhirnya bisa dong – and considered the best option (¬_¬) Dan terakhir CDC (Center of Disease Control Prevention) mengeluarkan panduan bahwa seluruh masyarakat wajib menggunakan masker – dan wabil khusus masyarakat awam diutamakan menggunakan masker kain – dan (yang ini yang agak ajaib), mengingat keterbatasan masker saat ini, CDC menyarankan penggunaan masker kain bagi GP yang bertugas (istilahnya daripada gaada samasekali).

CDC on Cloth Face Coverings
Ini page CDC yang menjelaskan penggunaan masker kain sebagai bentuk perlindungan terhadap COVID-19.

Dinamis sekali ya perkembangan pengetahuan tentang virus satu ini. Itu yang saya share baru tentang masker. Belum lagi tentang pemeriksaan penunjang diagnosis atau bahkan tata laksana. Kalau Mommies tahu perkembangannya, waduh niscaya akan ikut cemas bersama kami yang terjun di lapangan (/。\) Makanya selama punya priviledge untuk #dirumahaja, tolong dipakai dengan sebaik-baiknya ya Mommies (✿╹◡╹)

Mengingat dinamisnya perkembangan penyakit ini, diagnosisnyapun nggak main-main. Yang jelas, point of contact dengan pasien positif COVID-19 menjadi key. Maka dari itu, KEMENKES bekerja sama dengan pihak ketiga membuat assessment mandiri untuk mengetahui chance COVID-19 pada masyarakat yang bergejala ataupun tidak bergejala.

Salah satunya adalah melalui platform Halodoc yang bisa diakses di sini:

CEK RISIKO COVID-19 DI SINI.

HALODOC COVID-19
Silahkan merujuk pada link di atas untuk mengetahui risiko COVID-19 Anda.

Tingal klik klik klik in sha Allah sudah dapat jawaban ya.

Nah kalo cuma seasonal flu?

Tips-tips Menanggapi Gejala Batpil pada Anak di Masa Pandemi COVID-19

Yuk sedikit berfikir seperti dokter. After all, Mommies biasanya serba bisa ya. Bisa jadi akuntan, koki, guru, tukang laundry, sampe dokter di rumah (ˇ⊖ˇ)

Kalau anak batpil, saran saya paling pertama sekali adalah: Mommies, take a deep breath. Tenang dulu. Kalau sudah tenang, baru kita mulai analisis, yes. Soalnya kalo panik, biasanya proses fikirnya ga jernih, jadi yang buruk-buruk aja yang kefikiran (๑→ܫ←)

  1. Oke sekarang kalau sudah tenang.. Coba lihat kondisi anak Mommies. I know sometimes we are sentimental dan merasa serba khawatir dengan anak. But, Mom, coba brush the sentiment aside, dan coba berfikir dengan kepala jernih, ask yourself: adek jadi lebih lemas dari biasanya atau tidak? Atau malah lebih rewel dari biasanya? Atau biasa-biasa aja?
  2. Yang kedua Mommies mau pastikan adalah anak Mommies tidak demam tinggi. Definisi demam yang mengarah ke COVID-19 adalah jika suhu > 38,5 °C (why? karena khas virus, demamnya langsung melesat tinggi). Untuk referensi, suhu normal adalah berkisar antara 36,5 – 37,5 °C. Jadi ada baiknya kalau sedang punya anak di rumah, kita simpan termometer di rumah. Ngga usah yang mahal-mahal tipe infrared segala Mommies. Yang model ketek-an juga ga masalah kalo anaknya kooperatif. (Dok kemarin aku cek di termometer masa suhuku 35 °C. Aku sakit dong dok? ヽ(゚Д゚)ノ  Nggak ya. Kalo nggak menggigil sampe jari-jemari biru suhu sekian itu biasanya karena penempatan termometer yang kurang tepat di ketiak, sehingga hasilnya ga akurat and you can brush it off as normal selama suhunya nggak di atas 37,5 °C). Biasanya, kita lihat selain suhu adalah lama gejala demam tersebut. Kita mau observasi dulu < 72 jam (jadi kalo dokter bilang di bawah 3 hari itu hitungannya by hours ya Mommies). Bagaimanakah gambaran demamnya dalam 72 jam? Mommies take note, naik tiap berapa jam demamnya? 4 jam? 6 jam? 8 jam? Apakah langsung tinggi > 38,5 °C? Bagaimana sifat demamnya setelah diberi obat penurun panas? Apakah lantas turun? Atau tidak turun panasnya dengan obat? Nah, satu hal tentang obat penurun panas, tolong diperhatikan bahwa dosisnya sudah tepat ya Mommies. Karena berbeda dengan orang dewasa, dosis obat anak sangat berkaitan dengan berat badan. Kami biasanya menghitung dari berat badan. Tapi, untuk amannya buat Mommies, silahkan merefer ke panduan pemberian dosis obat pada kemasan obatnya. In sha Allah perhitungannya ga jauh dari panduan tersebut. (Karena seringnya saya ketemu orang tua yang lantas menjawab, biasanya obatnya dari DSA yang itu dok, dari sejak kelas 2 SD pake itu. Sementara sekarang anaknya udah kelas 4 SD dan berat badannya sudah jauh berubah. Ya, kemungkinan panasnya tidak turun karena dosis tidak tepat).
  3. Yang ketiga, coba lihat gejala di anaknya. Flu itu gangguan pada saluran nafas atas. Jadi gampangnya saluran nafas daerah wajah dan sedikit daerah leher. Tapi bukan leher ke bawah (dalam artian sampe paru-paru), gampangnya begitu ya. Anaknya apa gejalanya? Pilek aja? Batuk aja? Selama tidak ada sesak, in sha Allah belum keadaan gawat darurat. Nah, definisi sesak di sini adalah karena proses nafas yang tidak optimal di paru-paru. Tanda paling mudah adalah kalo Mommies cek daerah dada, saat anak bernafas, terlihat berat sekali sampai iga-iganya tercetak jelas. Tanda lain kalau saat bernafas, cuping hidungnya kembang kempis. Atau, Mommies merasa postur tubuh anak berubah semenjak sesak (misal dia sampe harus menopang badannya karena kesulitan bernafas). Atau yang paling parah adalah kalau bibirnya berubah menjadi pucat atau biru. Itu adalah tanda-tanda bahwa delivery oxygen di tubuh anak Mommies tidak baik. Secara objektif, kami menilai sesak dari meningkatnya frekuensi pernafasan. Pada anak, frekuensi pernafasan berbeda-beda berdasarkan usia.
    Cara menghitungnya adalah dengan melihat pergerakan dada atau gampangnya tarikan nafas anak dalam 1 menit. Kalau jumlahnya melebihi atau kurang dari range normal, maka ada gangguan pernafasan atau sesak. Penting untuk diingat adalah jika Mommies mencoba untuk mengukur nafas anak, pastikan anak dalam kondisi tidak menangis atau kooperatif.
  4. Keempat, coba cek adakah gejala atau keluhan dari sistem organ lain? Pencernaan misalnya, adakah mual, muntah, diare, atau konstipasi?

Sebetulnya terakit gejala demam dan batpil dalam pandemi COVID-19 ini yang paling utama adalah Mommies pastikan anak tidak sesak dan tidak demam tinggi yang tidak dapat terkontrol dengan obat penurun panas atau demam melebihi 72 jam.

Yang juga penting adalah, anak dengan demam dan batpil, coba lihat kondisi anaknya secara umum apa lemas? Atau biasa biasa saja?

Kalau demam >  37,5 °C yang masih bisa terkontrol dengan obat penurun panas dengan gejala batpil < 72 jam dan kondisi anak masih ceria, masih aktif, in sha Allah dedek masih tidak kenapa-kenapa. Karena sebetulnya demam itu adalah mekanisme tubuh untuk membunuh kuman. Jadi sebetulnya fever is a defense mechanism system dari Allah untuk kita. Perlindungan tubuh. Hanya, permasalahannya, pada anak, demam yang terlalu tinggi dapat memicu kejang-demam yang memiliki implikasi panjang jika tidak dicegah sedari awal. Makanya kita beri obat penurun panas.

Seasonal flu.

Kalau anak hanya batpil biasa, kemungkinan anak hanya mengalami seasonal flu dan beberapa tips yang bisa saya berikan dan saya terapkan ke anak-anak adalah:

  1. Biasanya sebelum pileknya betul-betul ngocor, mengalir deras dari hulu ke hilir bagai niagara falls, atau mulai batuk, anak sudah mulai menunjukkan tanda-tanda seperti, enggan makan (atau selera makan menurun), mulai sedikit rewel, menolak minum, tidur lebih panjang dari biasanya, atau gosok-gosok hidung. Feeling Mommies bagaimana? Dedek kok beda dari biasanya? Nah kalau begini, coba mulai
    • Beri multivitamin (terutama yang mengandung vitamin c – cek di list komposisi obat) untuk anaknya atau kalau bisa, lebih baik lagi adalah immune booster (imboost, stimuno, imunos, dkk) sebelum demam atau batpilnya betul-betul muncul.
    • Ajak anak istirahat lebih awal dan lebih lama dari biasanya.
    • Hindari makan-makanan terlalu manis, terlalu dingin, terlalu berminyak yang dapat mempengaruhi lapisan mukosa tenggorokan anak.
    • Saya pribadi menerapkan penggunaan nasal spray dan throat spray (untuk saya dan Abinya) sebelum gejala mulai benar-benar parah. Kami biasa menggunakan Betadine Nasal Spray Kids karena di dalamnya ada agen pembunuh kumannya (spray ini tidak untuk digunakan terus menerus – baca anjuran pemakaian di kemasan obat).Betadine
  2. Jika keluhan sudah muncul, berikan obat sesuai gejala anak. Ini bisa dengan mudah Mommies dapatkan di apotek terdekat karena obat penurun panas dan obat batpil termasuk golongan obat over the counter atau bisa juga dengan menanyakan ke apoteker obat demam dan batpil yang baik untuk anak saya usia sekian dengan berat badan sekian.
  3. Kalau Dedek usianya masih berkisar antara 3-12 bulan, sebelum berfikir ke arah obat batpil, biasanya bisa Mommies tackle dulu dengan nasal spray isi saline water seperti Breathy atau Sterimar, dijemur tiap pagi dan sore, memberikan ASI lebih banyak dari biasanya, pemberian balsam bayi seperti Transpulmin untuk baby, dan menguapkan pernafasannya dengan air panas (siapkan baskom, laburi dengan balsam, dan lalu beri air panas).
  4. Untuk anak usia > 6 tahun yang mengeluh nyeri tenggorok di awal-awal sebelum sakit bisa dibantu dengan Betadine Sore Throat Spray (spray ini tidak untuk digunakan terus menerus – baca anjuran pemakaian di kemasan obat). Saya dan Abinya menggunakan ini jika terasa tenggorokan mulai tidak nyaman/ nyeri dan Alhamdulillah tidak berlanjut ke batpil.

Mommies know their children best. Kalau gejala tiba-tiba bertambah parah dalam kurun waktu < 72 jam yang di mana muncul red flag-nya terutama adalah sesak dan demam tinggi persisten tidak responsif obat penurun panas, maka sebaiknya dibawa konsul ke dokter. Selain itu, jika panas bertahan > 72 jam, sebaiknya juga dibawa konsul karena berarti harus ada yang dievaluasi dari kondisi anak dan tata laksana yang sudah diberikan.

Semoga kita semua senantiasa diberikan nikmat sehat ya Mommies. Be grateful for having the privilege of staying at home karena para frontliners wished they were in your place right now. 

#dirumahaja adalah berkah. Gunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk bonding dengan keluarga. Stay safe Mommies ❤

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *